Pemanfaatan Sungai Bawah Tanah di Gua Bribin

Diposting oleh My Profile , Minggu, 16 Januari 2011 16.14

Air bawah tanah didaerah karst (batu gamping), mempunyai sistim hidrologi yang berbeda dengan daerah non karstik. Hal ini berhubungan dengan sifat fisik-kimia batu gamping. Batu gamping bersifat porous, dan langsung meluluskan air hujan yang jatuh dipermukaan tanah melewati rekahan-rekahan pelapisan batuan vertikal dan horisontal.

Sehingga tidak memungkinkan terdapatnya air di permukaan. Kemudian air yang mengalir dibawah permukaan akan terakumulasi dalam suatu pola aliran tertentu sebagaimana layaknya sungai permukaan, dengan melewati lorong-lorong gua menjadi sungai bawah tanah. Dan setiap musim kemarau tiba, timbul masalah kekurangan air karena hilangnya sungai permukaan melalui rekahan-rekahan berupa gua yang tersebar diseluruh kawasan .

Dengan memperhatikan fenomena di atas, bisa diketahui bahwa di setiap musim kemarau tidak tersedia air permukaan dalam jumlah cukup. Sehingga bencana kekeringan menjadi ancaman di setiap tahun. Padahal jauh di bawah permukaan, air mengalir dengan percuma kemudian muncul di tempat lain yang jauh. Untuk selanjutnya pembicaraan dititikberatkan pada pemanfaatan sungai bawah tanah untuk penanggulangan masalah kekeringan tersebut. Salah satu kawasan karst yang memiliki kondisi ekstrim seperti tersebut di atas adalah satu kawasan di Kabupaten Gunungkidul yang terkenal dengan nama Kawasan Karst Gunung Sewu. Tercatat di tahun 1987, bencana kekeringan diderita oleh sekitar 193.900 jiwa di 7 kecamatan wilayah Kabupaten tersebut. Untuk memenuhi kebutuhan akan air, penduduk kawasan ini rela melakukan apa saja. Mereka mengkonsumsi air dari telaga-telaga yang, ada sekalipun di telaga tersebut juga berlangsung aktifitas mandi, cuci, dan memandikan ternak. Juga sumber-sumber air lainnya seperti gua-gua yang terdapat aliran sungai bawah tanah. Gambar: Warga masyarakat mengambil air dari gua.

masyarakat gua

Pemerintah Daerah Gunungkidul sadar, bahwa sistem hidrologi kawasa karst sangat spesifik. Sistem hidrologi kawasan karst tidak dapat dianggap sama dengan kawasan yang berstrktur geologi berbeda. Bahkan sebuah penelitian hidrologi di satu kawasan kecil daerah karst-pun tidak dapat dapat dijadikan suatu model matematis untuk daerah karst yang lainnya. Maka langkah pertama yang dilakukan PemDa adalah mendatangkan ilmuwan dari Inggris yang ahli dalam permasalahan hidrologi karst. Penelitian ini berlangsung pada tahun 1982 dan 1984. Dengan menelusuri dan memetakan lebih dari 200 buah gua dan sungai bawah tanah, berbagai metode survey untuk mengumpulkan data-data yang diperlukan untuk kepentingan pemanfaatannya nanti. Gambar. Pengukuran Debit Air menggunakan EC meter.

Pemerintah Daerah Gunungkidul sadar, bahwa sistem hidrologi kawasa karst sangat spesifik. Sistem hidrologi kawasan karst tidak dapat dianggap sama dengan kawasan yang berstrktur geologi berbeda. Bahkan sebuah penelitian hidrologi di satu kawasan kecil daerah karst-pun tidak dapat dapat dijadikan suatu model matematis untuk daerah karst yang lainnya. Maka langkah pertama yang dilakukan PemDa adalah mendatangkan ilmuwan dari Inggris yang ahli dalam permasalahan hidrologi karst. Penelitian ini berlangsung pada tahun 1982 dan 1984. Dengan menelusuri dan memetakan lebih dari 200 buah gua dan sungai bawah tanah, berbagai metode survey untuk mengumpulkan data-data yang diperlukan untuk kepentingan pemanfaatannya nanti. Gambar. Pengukuran Debit Air menggunakan EC meter.

0 Response to "Pemanfaatan Sungai Bawah Tanah di Gua Bribin"

Posting Komentar